Kamis, 23 Oktober 2014

Sambut 1 Suro, Sragen Gelar Gebyar Suran 2014


SRAGEN – Tradisi Larap Slambu Makam Pangeran Samudro hingga kini tetap lestari. Jelang 1 Suro, Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpor) Kabupaten Sragen tengah menyiapkan sejumlah agenda, salah satunya tradisi Larap Slambu yang akan digelar di lokasi Makam Pangeran Samudro yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Gunung Kemukus.
Dijelaskan oleh Kepala Dinas Pariwisata melalui Kepala Bidang (Kabid) Seni dan Budaya, Joko Suyono S.Kar, Tradisi Larap Slambu akan digelar pada hari Sabtu tanggal 25 Oktober 2014 tepat 1 Suro (Penanggalan Jawa) atau 1 Muharram 1436 H (Penanggalan Islam). “Acara akan kami mulai sekitar pukul 09.00 wib hari Sabtu 1 Suro nanti, “ jelas Joko Suyono.
Upacara Adat yang digelar secara rutin disetiap tahunnya ini tidak hanya menarik dari segi wisata saja tetapi juga mempunyai nilai kesakralan ritual upacara yang dipercaya oleh warga mampu mendatangkan tuah.Tradisi tahunan yang menarik ribuan pengunjung ini berupa penyucian kain penutup makam Pangeran Samudro. Tradisi inilah yang kemudian sering dikenal sebagai upacara Larap Slambu Pangeran Samudro.
Tradisi Larap Slambu pada perkembangannya tetap dilestarikan oleh Pemerintah Kabupaten Sragen melalui Disparbudpor Kabupaten Sragen. Oleh Disparbudpor kegiatan di Gunung Kemukus tahun ini dikemas dalam sebuah acara “Gebyar Suran 2014”. Kegiatan itu meliputi kirab Gunungan Sedekah Bumi bersama warga Desa Pendem pada hari Jumat 24 Oktober 2014, pada malam harinya akan digelar Tahlilal bersama di bangsal Pangeran Samudro. Sedangkan pada hari Sabtunya, 25 Oktober 2014 Upacara Tradisi Larap Slambu dan puncak acara berupa Hiburan Klenengan dan Pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk, pada Sabtu malamnya
.
Prosesi Upacara Penyucian
Prosesi penyucian kain penutup makam Pangeran Samudro akan digelar hari Sabtu 25 Oktober 2014 dari pagi hari jam 09.00. Pada saat itu biasanya banyak sekali warga yang sudah berdatangan dari berbagai daerah termasuk dari luar pulau Jawa dan memadati lokasi kegiatan.Kegiatan penyucian diawali dengan membawa air kembang, slambu, dan kain mori serta sejumlah ubo rampe berupa sesaji menuju aliran sungai yang bermuara di Waduk Kedung Ombo yang terletak di sebelah timur makam. Jarak lokasi itu kurang lebih 500 meter dan dengan menyusuri anak tangga, rombongan pembawa perlengkapan dikawal sejumlah prajurit.

Di lokasi aliran sungai itu sejumlah warga sudah bersiap untuk memperebutkan berbagai ubo rampe yang nantinya akan dihanyutkan.
Begitu tiba di aliran sungai, berbagai jenis sesaji seperti jajan pasar, buah-buahan, rokok, dan kembang akan dihanyutkan oleh pembawa sesaji. Sesaji yang dilarung ini menjadi sasaran pertama para pengunjung dan peziarah sebelum nantinya mereka memperebutkan air bekas cucian slambu atau kelambu atau jamasan kelambu makam Pangeran Samudro.
                Setelah melarung berbagai jenis sesaji tadi, rombongan kemudian akan mencelupkan kelambu yang ditempatkan dalam keranjang ke dalam aliran sungai. Begitu diangkat, kucuran air bekas celupan tadi akan menjadi rebutan mereka yang telah menunggu.

Hal yang sama juga akan terjadi saat rombongan kembali ke pelataran makam Pangeran Samudro. Di pelataran itu kelambu kembali akan dibilas menggunakan air kembang yang bersumber dari tujuh mata air yang sudah disiapkan dalam tujuh gentong. Ratusan liter air kembang tersebut akan menjadi sasaran berikutnya oleh peziarah yang memadati makam saat upacara ini digelar.Pengunjung dan peziarah yang memperebutkan air jamasan atau sisa cucian, sesaji, dan kain mori percaya bahwa benda-benda tadi dapat mendatangkan tuah. Karena itu, puncak acara Larap Slambu Gunung Kemukus selalu terletak pada perebutan sisa air cucian kelambu ini. (Humas)